detikcom
Senin, 19 Juni 2017 07:44 WIB
Mudik Bareng BRI

Ramai Soal Gaj Ahmada, Yuk Cari Tahu Faktanya di Pendopo Trowulan

rdy - detikTravel
image jalur mudik
fay - Trowulan - Gaj Ahmada atau Gajah Mada? Identitas Mahapatih Majapahit ini lagi ramai diperbincangkan. Yuk, cari tahu faktanya dengan datang ke Pendopo Agung Trowulan.

Pendopo Agung Trowulan adalah destinasi yang patut disambangi traveler kalau penasaran dengan sejarah Kerajaan Majapahit. Itu karena di Trowulan, masih tersisa beberapa peninggalan kerajaan paling besar yang pernah menyatukan Nusantara.

Dari informasi yang dihimpun detikTravel, Senin (19/6/2017), Pendopo Agung Trowulan ini terletak di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Di destinasi inilah, kita bisa mengenang 2 pembesar Kerajaan Majapahit, siapa lagi kalau bukan Prabu Brawijaya dan Patih Gajah Mada.

Di dalam komplek Pendopo Agung Trowulan, tepat di sebelah kiri setelah gerbang masuk, terdapat cungkup, prasasti, dan juga Patung Gajah Mada di dalamnya. Patung ini diresmikan oleh Komando Pusat Polisi Militer pada tanggal 22 Juni 1986.

Patung Gajah Mada di Pendopo Agung Trowulan (Merza Gamal/d'Traveler)Patung Gajah Mada di Pendopo Agung Trowulan (Merza Gamal/d'Traveler)

Gajah Mada merupakan Mahapatih Kerajaan Majapahit yang terkenal akan Sumpah Palapa-nya. Sumpah ini diucapkan Gajah Mada ketika diangkat menjadi Patih Amangkubhumi pada tahun 1258 Saka (sekitar tahun 1336 Masehi).

Dalam kitab Pararaton, yang masih menggunakan teks Jawa abad Pertengahan, terdapat teks lengkap 'Sumpah Palapa' yang diucapkan oleh Gajah Mada. Teks tersebut berbunyi:

"Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa. Lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa,"

Yang artinya kurang lebih adalah sebagai berikut, 'Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa'.

BACA JUGA: Gajah Mada atau Gaj Ahmada? Coba Cek Dulu Namanya di Air Terjun Madakaripura

Nah, setelah ketemu Prasasti Gajah Mada, traveler juga akan melihat Patung Raja Brawijaya. Patung Brawijaya ini terletak di halaman Pendopo Agung Trowulan. Patung ini dinaungi oleh payung kerajaan.

Di bagian belakang Pendopo Agung Trowulan, ada bangunan yang disebut Petilasan Panggung. Bangunan ini berbentuk joglo yang ukurannya lebih kecil dari pendopo di depannya.

Petilasan inilah yang dipercaya sebagai lokasi Raden Wijaya bersemedi, sebelum dia membuka pemukiman di Hutan Tarik, di tepian Sungai Brantas, yang nantinya kita akan mengenalnya sebagai Kerajaan Majapahit.

BACA JUGA: 7 Jenis Air Suci Majapahit di Mojokerto, Konon Bisa Buang Sial

Di bagian belakang Pendopo Agung Trowulan juga terdapat relief yang dipahat di dinding. Relief ini menceritakan tentang sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit, sampai Raden Wijaya naik tahta.

Di lokasi ini pula terdapat petilasan moksa-nya Raden Wijaya ke Sang Hyang Widhi. Moksa sendiri adalah saat dimana terangkatnya jiwa dan raga dari ikatan duniawi dan lepas dari putaran reinkarnasi kehidupan.

Relief sejarah Raden Wijaya (Merza Gamal/d'Traveler)Relief sejarah Raden Wijaya (Merza Gamal/d'Traveler) Foto: (Merza Gamal/d'Traveler)

Berkunjung ke Pendopo Agung Trowulan pastinya akan memberi gambaran baru untuk traveler mengenai sosok Mahapatih Gajah Mada, serta raja-raja dari Kerajaan Majapahit. Pastikan juga untuk mendapat informasi dari sumber yang tepat dan juga terpercaya.

Soal kebenaran nama Gajah Mada, traveler sudah bisa sendiri menyimpulkan dari keterangan yang ada di Pendopo Agung Trowulan. Tidak perlu berdebat, apalagi sampai debat kusir, lebih baik piknik ke destinasi wisata keren Indonesia, contohnya ya ke Pendopo Agung Trowulan ini.

(rdy/fay)